Senin, 07 September 2009
sholat khusyu
Kalau masih mempunyai hobbi berdebat lalu mencari kesalahan dan mencari pembenaran atas aliran-aliran fikih dalam Islam, disarankan jangan baca buku ini. Karena saya pikir, khusyu’ itu tidak hanya dimiliki oleh satu aliran fikih saja. Akan tetapi, bisa dirasakan oleh siapa saja yang meyakini akan pertemuannya dengan Allah dikala berdiri shalat. Apapun jalan syariatnya, yang penting sesuai dengan nash yang sudah disepakati oleh jumhur ulama salaf maupun khalaf dan semuanya mengacu kepada hadist Nabi:
Shallu kama raitumuuni ushalli
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat..
Saya sangat appreciate, atas diterbitkannya buku saudara Mardibros. Karena untuk menjalankan shalat yang khusyu’, tidak harus menjadi ahli dalam bidang agama yang luas. Sebagaimana orang yang hendak menunaikan ibadah zakat , haji ataupun berpuasa. Ilmu yang diperlukan hanya sekitar hukum-hukum fikih, zakat, haji dan puasa. Disamping itu, hanya diperlukan sebuah keyakinan adanya Allah yang sangat dekat. Kalau keyakinan itu ada, tidaklah mungkin orang yang meyakini adanya Allah yang Maha Melihat, lalu shalatnya terburu-buru. Kalau dia meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui gerak-gerik hati setiap hamba-Nya, tidak mungkin shalatnya tidak serius.
Masihkah masalah shalat khusyu’ menjadi persoalan yang harus diperdebatkan dan diberikan alasan bermacam-macam. Hanya gara-gara tidak serius atas seluruh ibadahnya, lalu mengatakan shalat khusyu’ itu tidak ada bahkan mengatakan tidak mungkin.
Padahal dengan tegas, Al Qur’an mengatakan :
Qad aflahal mu’minuun, alladziina hum fii shalaatihim khasyi’uun.
Sungguh beruntung orang-orang beriman, yang di dalam shalatnya dilakukan dengan rasa khusyu’. (QS Al Mukminun [23]:1-2).Sebaliknya Al Qur’an juga mengatakan bahwa ada shalat yang dilakukan oleh orang-orang munafik.
Innal munaafiqiiina yukhadi’uunallaaha wa huwa khaadi’uhum, idzaa qaamuu ilash shalaati qaamuu kusaalaa yuraauunan naasa wa la yadzkuruunallaaha illaa qaliilaa.
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah juga akan membalas atas tipuannya tersebut. Mereka itu apabila melaksanakan shalat dilakukan dengan perasaan malas, dan mereka tidak serius didalam mengingat Allah kecuali hanya sedikit saja. (QS An Nisaa’ [4]:142)
Singkatnya, shalat itu ada dua jenis yang tercantum dalam Al Qur’an, yaitu shalatnya orang mukmin dan shalatnya orang-orang munafik. Tinggal kita menilai, jenis shalat yang mana yang biasa kita lakukan.
Abu Sangkan
Jakarta, 31 Agustus 2008
www.shalatcenter.com
http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/files/ (member milis dzikrullah)
Rabu, 27 Mei 2009
Pengantar 100 Kasus Tauhid
Senen –Rabu – Jum’at. Seminggu 3x. Setiap pembelajaran kasusnya, diupload saban jam 09.00 WIB.
Insya Allah.
Alhamdulillah, ini hari Kuliah Tauhid berlangsung lagi per tanggal 25 Mei 2009 ini. Dalam bentuk
pembelajaran lewat berbagai kasus yang saya himpun di dalam 100 kasus tauhid. Di antara kasus ini,
ada kasus tentang iman, tentang islam, tentang ikhlas, tentang sabar, tentang taqwa, tentang
syukur, tentang tawakkal, dan merambah juga ke kasus-kasus sedekah dan amaliyah lain yang
mudah-mudahan bermanfaat.
Saya berharap mudah-mudahan Saudara semua mengikuti lanjutan sesi Kuliah Tauhid ini dalam
keadaan berpuasa. Jika tidak dalam keadaan berpuasa, “pura-pura” berpuasalah. Untuk
menghormati Nabiyyunaa Muhammad shallaa ‘alaih yang telah memerintahkan kita puasa senen
kamis sebagai salah satu ‘amaliyah yang dicintainya.
Mudah-mudahan pula Saudara semua juga sudah shalat dhuha di pagi Senen ini. Bukan sembarang
dhuha, tapi dhuha ampe 8 atawa 12 raka’at. Ampe pol. Kita semua kepengen ditolong Allah sampe
selesai semua masalah kita. Dan kita semua kepengen selamet.
Dua ibadah sunnah yang saya sebut di awal ini, puasa senen kamis dan dhuha, insya Allah sudah
cukup menandakan bahwa “ada Rasulullah” di dalam kehidupan kita. Sehingga kita tidak diazab-Nya,
dan bahkan diberikan-Nya rahmat.
“Dan sekali-kali Allah tidak akan mengazab mereka, sedang engkau ada di antara mereka. Dan tidak
pula Allah mengazab mereka sedang mereka meminta ampun”. (Qs. al Anfaal: 33).
“Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan
mengampuni dosa-dosa kamu. Allah Maha Penyayang lagi Maha Pengampun”. (Qs. Aali Imraan:
31).
Demikianlah. Sesiapa yang sudah mengikuti Kuliah Tauhid, mestinya enteng menegakkan yang wajib
dan berkenan menghidupkan yang sunnah. Sebab, tidak berdiri tegak Kalimat Laa-ilaa-ha illallaah,
tanpa kalimat Muhammadur Rasuulullaah. Tidak lengkap tauhid kepada Allah, bila tidak mengikuti
sunnah-sunnah Rasulullah.
Dan bukankah Kuliah Tauhid harus bisa mengantarkan kita menjadi pencinta Allah dan Rasul-Nya?
Mudah-mudahan 40 esai tauhid + 1 esai mukaddimah, membawa pada perubahan kepada semua
pemerhati dan peserta Kuliah Tauhid ini. Sungguh tidak gampang. Tapi Allah akan memudahkan
siapa saja yang bersungguh-sungguh berjalan menuju diri-Nya.
“Dan orang-orang yang sungguh-sungguh mencari jalan Kami, mencari keridhaan Kami, meniti jalan
menuju Kami, Kami akan benar-benar menunjukkan kepada mereka Jalan-Jalan Kami. Sesungguhnya
Allah bersama orang-orang yang berbuat baik”. (Qs. al Ankabuut: 69).
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah. Mestinya Saudara sudah mulai melangkah menuju kanal
materi lain; Kanal Kuliah Dasar yang lain selain Tauhid, kanal Kuliah Pilihan, dan kanal Kuliah Solusi
Terapan. Jujur, ketika Kuliah Tauhid sudah berjalan di atas kuliah ke-30, saya mulai merasa kurang
sekali membekali diri saya dan Saudara semua dengan Kuliah Tauhid yang “hanya” 40 esai saja.
Bentangan samudera perkuliahan tauhid terlampau luas. Rasanya belum cukup jika dikayuh dengan
40 materi kuliah saja. Kuliah Tauhid dimaksudkan oleh saya sebagai pondasi dasar Saudara-saudara
semua untuk menuju perkuliahan-perkuliahan berikutnya. Dan bahkan saya menyebutnya sebagai
pondasi dasar untuk mengarungi kehidupan. Di awal dulu saya katakan, bahwa kalaupun isi
KuliahOnline hanya Kuliah Tauhid, dan kebetulan saudara-saudara dihadapkan pada persoalanpersoalan
hidup, niscaya Kuliah Tauhid sudah akan cukup menjadi teman Saudara semua. Bila
dipelajari benar, dengan semangat dan keiklhlasan menerima ilmu, maka insya Allah, akan ada
kekuatan untuk menjalani hidup dan kehidupan ini.
Ketika materi masuk ke materi 35 ke atas, saya mulai merasakan kebuntuan. Macet. Saya
berdoa kepada Allah, dan memohon petunjuk, tapi macet. Bener-bener macet. Hingga
kemudian saya berikan materi dalam bentuk tugas. Masih macet. Bukan macet di
saudaranya. Tapi macet di saya nya. Seakan saya ga tahu mesti gimana dan ngapain.
Dalam periode macet itu, saya merilis DHUHAACOFFEE sebagai sarana untuk mengobati
kerinduan saya mengajar dan belajar. Alhamdulillah, sejauh ini saudara semua
menunjukkan kesabaran yang luar biasa.
Hingga kemudian, saya bisa melanjutkan perkuliahan materi ke-38, 39 dan 40, dalam
bentuk penugasan. Mudah-mudahan saudara semua sudah menerima imel tugasnya.
Kemudian, saya merilis 100 kisah kehidupan, atau 100 kasus pembelajaran yang saya coba himpun,
yang sebisa mungkin kelak akan bisa mendekati kehidupan sehari-hari. Kasus-kasus semacam orang
yang saleh, tapi kemudian ada tahun di mana ia terkena bencana, ada di himpunan 100 kasus ini.
Kasus di mana ada seseorang yang sudah bersedekah, sudah masuk pula ke gerbang riyadhah,
namun ga tembus-tembus di urusan masalah dan hajatnya, ada juga di sini. Insya Allah. Semoga
semuanya menjadi saya yang bisa mengisi ruhiyah kita, dan memperkuat iman islam kita, supaya
kemudian tauhid kita bagus.
Saya beristighfar kepada Allah, bahwa ketika saya merilis Kuliah Tauhid ini saya pernah ketakutan
setengah mati. Ketakutan bahwa perkuliahan ini demikian berat. Serasa saya paling bener saja.
Padahal demi Zat yang memegang segala rahasia, rahasia aib daya, kekurangan saya, kejelekan saya,
ada di Pengetahuan-Nya. Bergidik saya terkadang menyaksikan diri saya sendiri masih kurang
tauhidnya. Masya Allah. Namun saya berikhtiar dengan memasang niat bukan mengajar saja, tapi
juga belajar. Dengan doa semua peserta dan kawan di Kuliah Tauhid ini, saya meniatkan diri ini
sembari memperbaiki diri. Mudah-mudahan ini bisa diterima.
Perlahan-lahan, kita bismillah. Kita ikuti dengan seksama lanjutan perkuliahan tauhid ini, dengan
mengikuti pelan-pelan satu demi satu kasus.
Ada satu yang ingin saya garis bawahi. Supaya ada endapan yang bagus, dan berkesempatan pula
saudara berinteraksi dengan materi ini, serta ada jeda untuk pengerjaan-pengerjaan tugas,
Perkuliahan 100 Kasus ini diselenggarakan seminggu 3x saja; Senin– Rabu – Jum’at. Saya akan coba disiplin mengupload setiap hari Senen, Rabu, dan Jum’at, setiap jam 09.00 WIB.
Saya masih menghindari chatting langsung, atau interaksi LIVE, sebab kesibukan yang masih lumayan
ada di pundak saya.
Namun saya insya Allah berusaha menjamin kesinambungan pembelajaran kali ini. Dan pada kasus
ke-100, maka setelahnya insya Allah akan benar-benar dibuka kanal kuliah-kuliah berikutnya.
Terasa panjang? Yah, serasa mengulangi apa yang pernah ditulis, bahwa tiadalah rugi belajar tauhid
ini. Insya Allah, belajarnya saja sudah menjadi ibadah. Ga perlu lagi ia dipahami, ia sudah jadi ibadah.
Ga usahlah lagi menunggu ia dimengerti, ia sudah menjadi ibadah. Ya, bukankah majelis perkuliahan
kita ini juga majelis ilmu adanya? Insya Allah demikian kiranya.
Kajian Tafsir ayat-ayat yang ada di Kuliah Tauhid juga insya Allah sudah mulai saya sempatkan
menulisnya. Mudah-mudahan dalam 2-3 pekan berikutnya, bisa menjadi teman belajar di sela-sela
belajar kasus demi kasus. Misalnya kita taro di hari Selasa, Kamis dan Sabtunya. Insya Allah. Doakan
saja ya.
Yuk kita bismillah. Kita mulai dengan pembelajaran kasus I.
Selamat mengikuti yaaa…
(
- Case 1 -
Amplop Di Kolong Pintu
Ada seorang anak yatim, yang sakit. Di ujung gang. Dan kita tergerak memberi ibu ini anak yatim,
100rb rupiah sebagai sedekah kita. Kita jalan diam-diam, no body knows. Tidak ada yang tahu.
Bahkan kita pun menyengaja tidak memberi tahu siapapun. Kita sembunyikan segala niatan kita.
Hanya Allah saja yang tahu.
Kita ambil amplop, lalu kita selipkan uang Rp. 100 tersebut. Kita pilih sengaja jalan menuju rumah si
yatim di saat langit begitu sunyi dihiasi sinar sempurna rembulan. Satu alasan: Benar-benar supaya
tidak ada yang tahu, bahwa di tangan kita tergenggam amplop putih berisi uang 100rb u/ si yatim.
Andai pun ada yang menegur: "Hendak kemana wahai anak muda?"
Niscaya kita hanya akan jawab dengan senyuman saja tanpa berkata-kata. Menghindari pertanyaan
selanjutnya. Kalaupun perlu menjawab, kita hanya akan menjawab: "Sedang menikmati malam dan
gemerlapnya bintang".
Lalu, di depan pintu rumah si yatim, kita pun menikmati kesendirian amal. Benar-benar tidak ada
yang tahu. Sementara kita meyakini bahwa Malaikat-Malaikat Allah yang bersih hatinya lah yang
menatap lekat perilaku kita dan mencatatnya bahwa amal ini mutlak milik Allah dan
dipersembahkan hanya untuk Allah semata.
Melalui lobang kecil di bawah pintu, yang berjarak hanya setengah centi dari tanah, kita masukkan
amplop tersebut. Amplop ini hanya bertuliskan: “Dari hamba Allah”.
Bahkan amplop itu masih berisi sedekah dalam bentuk yang lain. Yakni sedekah dalam bentuk
sekalimat doa: “Semoga Ananda diberikan kesembuhan, dan ibu memiliki keberkahan memelihara
anak yatim".
Tapi ya hanya sampai di situ. Benar-benar sampai di situ. Tidak ada ketukan pintu yang kemudian
menjadi kesempatan buat kita memberi tahu si penghuni rumah bahwa ada amplop terselip di
bawah pintu. Tidak. Amal ini begitu sunyi. Sesunyi malam yang dipilih.
Inilah yang barangkali disebut dengan “ikhlas” oleh kebanyakan orang.
Berusaha keras menyembunyikan amal, hanya Allah saja yang tahu.
Kerahasiaan amal di jaga demikian ketat. Hal-hal apa saja yang menyebabkan
amal ini menjadi tetap tersembunyi, benar-benar dilakukan.
Tugas buat Peserta:
1. Buatkan esai bagaimana ikhlas menurut Saudara? Seberapa yang Saudara ketahui saja.
2. Cari 1 ayat al Qur’an tentang ikhlas dan kupas ayat tersebut.
3. Berikan contoh-contoh kisah atau contoh-contoh pekerjaan tentang ikhlas dan rangkai menjadi 1
cerita pendek bertemakan ikhlas.
Catatan:
Kepada seluruh peserta yang menerima tugas dengan ikhlas dan menjalani tanpa keterpaksaan dan
sepenuh hati, saya ingin katakan kepada saudara semua: Selamat mencoba! Selamat menulis!
Jangan kira saya engga baca tugas demi tugas yang saya berikan kepada Saudara. Insya Allah saya
baca. Yang layak saya masukkan ke dalam kumpulan buku, insya Allah sedang dipilihkan untuk
dimasukkan ke dalam kompilasi, hingga tulisan Saudara menjadi bahagian sejarah dari
pembelajaran tauhid untuk dunia.
Saya memperhatikan tulisan-tulisan Saudara bagus-bagus. Hanya memang beberapa di antara
Saudara ada yang sekedar menulis untuk sekedar bisa masuk ke materi berikutnya. Bahkan ada juga
yang hanya menulis “xhksauydswdbjn laisoaisjaklsn lkajsoAISMNBJH LDJLSKDALSKDJSA
MNDSNKJSHK kjdhasudykjbns jsadhiuyriewuroewn wkjhiwuyewiun”, TANPA BISA DIBACA! He he
he. Benar-benar sekedar syarat saja, memenuhi “kuota” keharusan jumlah huruf dan kata.
Cobalah menulis dengan hati. Saya bisa memberi kisi-kisi. Untuk poin 3, barangkali Saudara bisa
menulis tentang: # Seorang penjaga lintasan kereta api # seorang guru di pedalaman, seperti Guru
Muslimah, gurunya Lintang di Laskar Pelangi # Seorang penjual jamu gendong yang menghidupi
suaminya yang sakit # Seorang istri yang berjuang melahirkan dalam keadaan gagal jantung! #
Sistem kerja matahari, yang mengalirkan cahaya tanpa meminta kembali cahayanya # Jantung yang
bekerja secara tersembunyi sedang yang nampak adalah mata, hidung, telinga, wajah # Akar pohon
yang semakin ke dalam semakin kuat # Akar rambutan yang kepengen nongol dan malahan merusak
tembok dan rumah yang di dekatnya # Mata Air # Ibu # Guru alif-alifan yang diusir dari
kontrakannya # Kulepas suamiku ke medan perang dalam keadaan bayiku 2 hari lagi lahir # Mereka
yang ikhlas diamputasi kakinya karena diabetes # Ikhlas menyedekahkan gaji 3 tahun di negeri orang
# Cerita-cerita keikhlasan sahabat, dan masih banyak lagi.
Silahkan menulis ya. Tanya sana sini, buka buku sana sini, pasang kuping buka mata tentang 1001
cerita cinta tentang ikhlas yang banyak bertaburan di sekitar kita. Syukur-syukur kisah itu berbasis
kisah asli. Jika tidak ada, maka bayangkanlah sesuatu, dan tulis.
Saya yakin Saudara bisa. Wong dulunya saja saya ga bisa menulis. Pekerjaan menulis adalah
pekerjaan yang paling saya sebelin dulu. Saya punya guru, namanya Pak Dulsai. Beliau pernah
memanggil saya, dan menegur dengan kasih sayangnya. Satu hari, di kelas IV Ibtidaiyah (setara
dengan kelas IV SD), saya dapat tugas menulis 1 lembar tentang liburan. Saya lalu menulis dengan
tulisan yang GEDE-GEDE dan J A R A N G - J A R A N G .
He he he, betul itu. Tujuannya, sekedar memenuhi tugas agar bisa tulisan itu sebanyak 1 halaman.
Hasilnya? Disuruh mengulang tulisan sambil berdiri!
Kebisaan menulis malah menjadi satu kegiatan yang saya rindukan. Ga enak rasanya kalau ada
sesuatu ga saya tulis.
Berawal dari sel yang sempit dan kebosanan ga ada kegiatan, saya meminta kertas sama petugas
tahanan. “Pak, minta kertas dong…”, begitu saya teriak dari dalam sel. Teriak kecil sama petugas
yang kebetulan lewat.
“Buat apa? Engga ada yang mau lagi sama Kamu!” begitu dia jawab. Dia sangka saya mau nulis
surat cinta buat pacar. Sungguh. Itu dia utarakan. Dia bilang, percuma. Ga akan dibaca pacar saya.
Saya jawab, “Ga punya pacar Pak! Saya mau nulis surat buat Allah…!”
Setelah dialog kecil, beliau mengambilkan saya kertas. Ga tanggung-tanggung, 1 rim!
“Tulis tuh! Lumayan buat teman curhat, he he he”.
Ya. Memang saya ambil kertas, dan saya tulis. Untuk teman curhat. Menumpahkan apa yang saya
rasa. Kalimat demi kalimat mengalir dari sekedar pertanyaan: Kenapa saya ada di sini…? Di sel
maksudnya.
Tanpa terasa, kertas-kertas itu berisi penuh tulisan perjalanan saya sampe hari di mana saya disuruh
menukar pakaian. Persis seperti Antasari. Bedanya, pakaian tahanan Antasari berwarna merah, saya
berwarna biru.
“Copot itu pakaian!”, begitu kata seorang polisi.
Saya bertanya dengan lugunya, “Kenapa Pak saya disuruh copot pakaian?”
“Loh, gimana sih? Kamu ini ditahan. Tukar sama baju ini…”, lanjut si polisi ini sambil memberikan 1
pakaian ke saya. Pakaian tahanan.
Kumpulan tulisan itu kemudian dibukukan di awal dengan judul: Wisatahati Mencari Tuhan Yang
Hilang. Sebuah catatan ringan selama saya dipenjara.
Subhaanallaah… Sekali lagi, selamat mencoba ya. Selamat menulis. Jangan lupa berdoa sama Allah.
Wass.
Salam, Yusuf Mansur.
Munajat
Ilaahanaa… Wahai Allah Tuhan kami. Engkau lah Yang Mengajarkan Keikhlasan. Engkau pula Yang
Membimbing siapa yang Engkau kehendaki untuk menjadi hamba-Mu yang mukhlis, yang ikhlas.
Rabb, dengan segala Kemuliaan-Mu yang telah menciptakan kami dengan segala masalah dan hajat
kami, apakah salah kami beribadah kepada-Mu dan kemudian kami berharap belas kasihan Engkau
di dalam segala urusan kami?
Rabb, Engkau yang telah menjanjikan segala rupa fadhilah amal. Salahkah kami yang sudah
berbesar hati dengan segala apa yang Engkau tawarkan dan kemudian membuat kami menjadi
semangat dalam menyambut Seruan-Mu, benar-benar meminta keutamaan itu?
Keikhlasan mestinya bukan menafikan kebolehan seorang hamba meminta kepada Khaliqnya.
Mestinya keikhlasan adalah manakala seorang hamba bergerak menyambut seruan-Mu dengan
ringan, dengan ikhlas, dengan enteng. Bukan menjadikannya tembok yang menghalangi hamba-Mu
dari meminta kepada-Mu.
Duhai Allah. Jika ikhlas adalah berarti menutup diri dari meminta dan berharap pada-Mu, kemana
lagi kira-kira jiwa-jiwa yang kering, yang gersang, yang resah, mengadu?
Duhai Allah. Jika ikhlas adalah berarti tidak bolehnya seorang hamba dari menagih Janji-Mu,
mengapakah lagi Engkau tawarkan itu kepada kami?
Hamba-Mu yang terbatas ilmunya ini, menyetujui jika termasuk bahagian ikhlas itu adalah
menyembunyikan amal. Takut menjadi riya’. Takut kemudian di satu waktu amal ini diperdengarkan
kepada jagad. Tapi berikanlah kami pemahaman, bagaimana jika kiranya dengan amal itu kami
hendak mengajarkan uswatun hasanah kepada saudara-saudara kami yang lain? Berikanlah kami
satu pengajaran tentang salah dan benarnyakah hamba-Mu ini jika kemudian mengumumkan satu
amal agar ia diikuti oleh orang banyak?
Demi Zat-Mu yang tidak pernah meleset dalam janji. Jika seorang hamba banyak merasakan
manisnya beramal saleh, dan kemudian merasakan kebenaran-kebenaran janji-Mu. Maka apakah
boleh hamba-Mu itu mengabarkan berita gembira ini kepada mereka-mereka yang berkenan
percaya sekiranya kami beritahu mereka keutamaan suatu amal? Dan jika sedekah informasi ladang
amal adalah suatu sedekah adanya, mengapa kami tutup satu kesempatan amal hanya untuk kami
dan tidak kami beritahu yang lain?
Rabb, tidak ada yang bisa mengajarkan keikhlasan kecuali Engkau sendiri yang mengajarkan. Dan
tidaklah ada yang bisa mengampuni sesuatu, kecuali Engkau lah Allah Yang Maha Mengampuni.
Duhai Yang Tidak Terbatas Rizkinya. Mudah-mudahan Engkau berkenan memberikan rizki-Mu
kepada semua peserta KuliahOnline. Rizki atas kesabarannya menuntut ilmu. Rizki atas
kesabarannya mengerjakan tugas. Rizki atas rizkinya yang sudah dikeluarkan di urusna menuntut
ilmu. Rizki atas waktu dan tenaga, serta pikiran yang sudah dikeluarkan untuk menuntut ilmu.
Setelah ini, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat. Dan jauhkan dari kami ilmu yang siasia.
Bimbinglah kami semua untuk berbuat yang Engkau ridhai. Termasuk di urusan KuliahOnline ini.
Jadikan juga lewat tangan-tangan semua peserta, apa-apa yang ada di KuliahOnline ini kemudian
tersebar dan menyebar ke seluruh bumi-Mu, hingga ia menjadi Cahya buat kami semua. Dekatkan
kami dengan al Qur’an Kalam-Mu, dan pengajaran sunnah Rasul-Mu.
Shalawat serta salam kami semua haturkan buat junjungan kami, Muhammad shalla ‘alaih, yang
mengalir pahala untuknya, sebab dialah Mu’allim kami semua, guru kami semua. Jadikan kami ada
Materi kuliah ini didownload dari http://www.kuliah-online.com
di barisan pengikutnya kelak di hari di mana seluruh ummat manusia akan mencari pemimpinnya.
Walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Selasa, 13 Januari 2009
CONTOH PEJABAT ANTI KORUPSI
Setelah proyek milyaran selesai, seorang direktur departemen kedatangan tamu konsultan merangkap kontraktor.
Konsultan: "Pak, ada hadiah dari kami untuk bapak. Saya parkir dibawah, Toyota Innova."
Direktur : "Anda mau menyuap saya? ini apa-apaan? tender dah kelar kok. jangan gitu ya, bahaya tau haree genee ngasih-ngasih hadiah."
Konsultan: "Tolonglah pak diterima. kalau gak, saya dianggap gagal membina relasi oleh komisaris."
Direktor: "Ah, jangan gitu dong. saya gak sudi!!"
Konsultan (mikir ): "Gini aja, pak. gimana kalau bapak beli saja mobilnya..."
Direktur: "Mana saya ada uang beli mobil mahal gitu!!"
Konsultan menelpon komisaris..
Konsultan: "Saya ada solusi, Pak. bapak beli mobilnya dg harga rp.10.000,- saja."
Direktur: "Bener ya? OK, saya mau. jadi ini bukan suap. pake kwitansi ya.."
Konsultan: "Tentu, Pak.."
Konsultan menyiapkan dan menyerahkan kwitansi. Direktur membayar dengan uang 50 ribuan. mereka pun bersalaman.
Konsultan (sambil membuka dompet ): "Oh, maaf Pak. ini kembaliannya Rp.40.000,-. "
Direktur: "Kembaliannya tolong kirim 4 mobil lagi kerumah saya aja ya..."
Konsultan : @#$%^&**
dari milis iqra
Rabu, 07 Januari 2009
2009
awal tahun, ada sedikit kekhawatiran terhadap kondisi kehamilan istri karena tiga hari yang lalu terdapat flek darah, walaupun sedikit tetap aja perlu dicurigai. kemarin malam ke dokter untuk usg melihat kondisi janin, dan ternyata tidak ada kendala, cuma posisi ari2 yang berada di bawah janin yang seharusnya ada diatas sehingga jika terjadi pergeseran letak akan mengakibatkan iritasi dan mengeluarkan sedikit darah. pergeseran letak janin terjadi karena pertumbuhan. semakin besar janin maka akan bergeser ke atas dan mendorong organ yang ada di dalam perut termasuk plasenta.
ya ALlah aku berlindung kepadamu dari sedikitnya ilmu yang kami miliki, amin
